Mendesak, Kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup


Suara merdeka 30 Juni 2010

Mendesak, Kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup

PURWOKERTO – Diperkirakan menjelang tahun 2050, jutaan spesies flora dan fauna global akan punah secara massal. Perubahan iklim dan pemanasan global berpotensi menjadi penyebab utama.

Dari studi yang dilakukan di enam wilayah menyebutkan, seperempat hewan dan tumbuhan yang hidup di daratan akan musnah, jika efek rumah kaca tidak segera ditanggulangi.

Pendapat tersebut diungkapkan anggota Dewan Pakar Persatuan Biologi Indonesia, Prof Dr RTM Sutamihardja MAg (Chem) dalam seminar nasional ”Biologi dan Bioteknologi Sumber Daya Akuatik” di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), baru-baru ini.

Sutamihardja mengungkapkan, proses kemerosotan dan kepunahan keanekaragaman hayati sebenarnya peristiwa alami. ”Namun proses tersebut sering kali dipercepat oleh pemanfaatan berlebihan yang dilakukan manusia,” paparnya.

Dari laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pada 2001 dan 2007 terungkap kurang lebih 20-30% tumbuhan dan hewan diperkirakan risiko kepunahannya meningkat. Hal itu bisa terjadi jika kenaikan temperatur global rata-rata di atas 1,5-2,5 derajat celcius.

Menurutnya, tutupan hutan di Indonesia menyusut menjadi 98 juta ha pada 2002. Selain itu, laju deforestasi hutan pun meningkat dari 1,6 juta ha/tahun di antara tahun (1985-1997), menjadi 2,8-3,6 juta ha pada 1998-2000.

”Pada 100 tahun lalu tutupan hutan di Indonesia masih sekitar 170 juta ha. Kondisi 98 juta ha itu, setengahnya sudah terdegradasi akibat aktivitas manusia,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, untuk mencegah terjadinya hal tersebut perlu segera ditegakkan hukum yang kuat dan adil. Selain itu pendidikan mengenai lingkungan hidup sudah selayaknya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan formal. ”Mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan lingkungan menjadi sebuah urgensi,” ungkapnya.

Sementara itu, pembicara lain, Dr Anugerah Nontji mengatakan, ekosistem pesisir tropis berupa padang lamun selama ini belum banyak mendapat perhatian masyarakat. Padahal, ia menilai padang lamun mempunyai peran penting dalam menjaga ekosistem, karena berfungsi sebagai penunjang kehidupan di wilayah perairan.

”Misalnya sebagai penghasil oksigen, sumber pakan hewan laut, dan tempat kehidupan hewan laut. Padang lamun juga berperan penting sebagai carbon sink yang berkaitan dengan perubahan iklim global,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, untuk menjaga keberadaan padang lamun, perlu dilakukan kampanye penyadaran kepada masyarakat pesisir.

Prof Dr Agus Irianto, pembicara dari Unsoed memaparkan makalah mengenai manipulasi mikroorganisme untuk pemberdayaan lingkungan. Mikroorganisme, menurut Agus, bisa digunakan untuk melakukan perbaikan kondisi air. (K10-75)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: