Politikus Bukan Ilmuwan


Politikus Bukan Ilmuwan

  • Oleh L Wilardjo

AKHIR bulan lalu seorang teman menghadiahi saya buku Einstein’s Mistakes, karya HC Ohanian. Di sampul dalamnya ia menulis: ”Karena sekarang kau sudah mendekati umurku, tentu akan menyenangkan kalau kau menemukan kembali kebenaran melalui kesalahan-kesalahanmu.”

Nasihat untuk belajar dari kesalahan ini patut dicamkan, tetapi teman saya itu mengungkapkan kata-kata pembukaannya secara salah. Dia setahun plus seminggu lebih tua daripada saya. Selama dia dan saya masih sama-sama hidup, mustahil saya dapat mendekati umurnya. Jarak setahun lebih seminggu itu akan tetap saja, sampai salah seorang di antara kami menghadap Tuhan lebih dulu.

Melalui e-mail, saya terima kasihi dia. Lalu saya katakan bahwa kata orang bijak, ilmuwan boleh berbuat salah, tetapi tidak boleh berbohong. Sebaliknya, politikus boleh berbohong, tetapi tidak boleh berbuat salah. Soalnya, ilmuwan mengejar kebenaran, sedang politikus memburu kekuasaan. Saya tidak tahu, siapa orang bijak yang pertama mengucapkan kata-kata itu. Menurut para mahasiswa saya, yang berkata begitu ialah Prof Dr Satjipto Rahardjo, pakar Sosiologi Hukum dan Telaah Kepolisian, di Undip.

Pernyataan yang pertama, yang mengenai ilmuwan, mudah dipahami dan langsung berterima (acceptable). Berbuat salah adalah manusiawi (To err is human). Tak seorang manusia pun kalis dari kesalahan. Karena itu ilmuwan, yang pastilah manusia juga, boleh, bisa, dan sering berbuat salah, baik secara sengaja, maupun tidak.

Bahkan Einstein, genius terbesar pada abad ke-20, banyak kesalahannya di sepanjang kariernya sebagai ilmuwan. Beruntung ia dikaruniai talenta besar dan intuisi yang kuat, sehingga dapat memakai kesalahan-kesalahannya sebagai batu loncatan menuju penemuan kebenaran.

Penggal kedua dari pernyataan tentang ilmuwan itu, yakni bahwa ilmuwan tidak boleh berbohong, juga mudah diterima sebab kebenaran tak dapat dicapai dengan kebohongan. Bila seorang ilmuwan berbohong, ia sedang tidak menjadi ilmuwan; ia sedang menjadi manusia biasa.
Politikus Bohong Yang tidak langsung berterima ialah pernyataan bahwa politikus boleh berbohong. Tetapi berbohong tidak inkonsisten dengan tujuan untuk mendapatkan kekuasaan. Dalam perannya sebagai politikus, orang bisa berbohong. Apakah itu boleh dilakukan, tentu tergantung pada sikap moral politikus sendiri. Kalau bagi mereka ”tujuan menyucikan cara” (het doel heiligt de middelen), berbohong di ranah perpolitikan itu bolah-boleh saja. Berbohong juga ”terpaksa boleh”, kalau pada politikus nurani dibungkam oleh rasionalisasi. Tentu banyak politikus yang ”kreatif” dalam menciptakan rasionalisasi.

Lepas dari boleh atau tidak, dan apakah diakui atau tidak, kenyataannya banyak politikus yang berbohong. Mereka yang setelah menjadi pejabat melupakan janji-janji kampanyenya adalah pembohong. Anggota DPR yang tidak membela kepentingan konstituennya dan tidak mewakili rakyat, dan bahkan berburu gratifikasi, juga pembohong.

Kata HC Ohanian, sejak 1905 sampai dengan 1946 Einstein melakukan kesalahan sampai tujuh kali dalam membuktikan ”rumus”nya yang amat terkenal, yakni bahwa E=mc2. Memang, ketika Hahn dan Strassmann secara eksperimental menunjukkan terjadinya fissi nuklir pada 1939, rumus E=mc2 itu sudah terbukti. Bukti faktual yang mengerikan disajikan oleh ledakan bom-A di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945.

Pernyataan dalam rumus E=mc2 itu telah terbukti sesuai dengan kenyataan. Tetapi dalam Fisika, Asas Kebersesuaian (Correspondence Principle) itu saja belum cukup. Asas Kepanggahan (Coherence Principle) juga harus dipenuhi. Dalam Fisika, motto ”Tujuan menyucikan cara” (The end justifies the means) tidak berlaku. Fisikawan tak hanya diharapkan untuk memberikan hasil yang benar. Ia juga harus dapat menjelaskan secara konsisten, bagaimana hasil yang benar itu diperoleh.
Besar Kepala Dalam Matematika, bukti ialah deretan langkah yang runtut dan konsisten, yang beranjak dari aksioma dan bermuara di teorema. Dalam Fisika, aksiomanya disebut postulat, dan teoremanya disebut asas. E=mc2 ialah asas kesetaraan tenaga dengan massa. Karena alihragam Lorentz sudah diturunkan Einstein dan postulat relativitas dan postulat bahwa kecepatan cahaya itu tetap, E=mc2 cukup dibuktikan dengan bertolak dari alihragam Lorentz, dengan mengingat bahwa skalar karar (invariant) dalam alihragam itu. Kalau skalarnya ialah kuadrat vektor-4 pusa-tenaga (energy-momentum four-vector), kita dapatkan E=mc2.

Guru-guru Fisika yang dapat menurunkan rumus E=mc2 itu dalam waktu satu jam pelajaran jangan besar kepala. Ingatlah kisah ”Telur Columbus”. (35)

–– Prof Dr L Wilardjo, Guru Besar Ilmu Fisika UKSW Salatiga suara merdeka 2 mei 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: