STRATEGI MEWUJUDKAN SEKOLAH BERMUTU MELALUI BUDAYA GEMAR MEMBACA


STRATEGI MEWUJUDKAN SEKOLAH BERMUTU
MELALUI BUDAYA GEMAR MEMBACA

A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan. Pendidikan sangat penting peranannya, sebab tanpa pendidikan manusia akan mengalami kesulitan untuk berkembang. Agar manusia dapat berkembang dengan baik, maka pendidikan yang berkualitas menjadi sebuah keharusan.
Isu penting dalam penyelenggaraan pendidikan saat ini adalah peningkatan mutu pendidikan. Mutu pendidikan sangat ditentukan oleh penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dengan demikian penyelenggaraan pendidikan di sekolah merupakan pilar penting dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas.
Untuk menyelenggarakan pendidikan di sekolah yang berkualitas haruslah memanfaatkan segala potensi yang dimilikinya, salah satu adalah perpustakaan. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa selama ini ada sebuah potensi di sekolah yang belum dimanfaatkan secara optimal yaitu “perpustakaan”. Padahal untuk menyenggarakan pendidikan yang bermutu, budaya membaca tentu tidak bisa diabaikan begitu saja. Perpustakaan di sekolah kita perlu dimanfaatkan dan perlu dikembangkan agar budaya gemar membaca dapat terwujud.
Budaya membaca harus dikembangkan, bahkan sebelum anak memasuki pendidikan formal, misalnya dengan membaca buku-buku bergambar.
Setelah anak mulai sekolah, perlu semakin dirangsang untuk membuka dan membaca buku-buku yang sesuai dengan perkembangan jiwanya (Tampubolon, 1987: 230).
B. Konsep Manajemen Program Budaya Membaca
Hampir dalam semua jenis pekerjaan atau aktivitas membutuhkan perencanaan yang baik. Mustahil kiranya suatu usaha yang dilakukan seadanya, tanpa rencana, tergesa-gesa, tanpa persiapan, dan dalam kondisi yang serba tidak beraturan membuahkan hasil yang menggembirakan dan memuaskan. Demikian halnya dalam suatu rencana mewujudkan sekolah unggul melalui peningkatan budaya membaca yang dilakukan tidak melalui proses perencanaan yang baik, juga mustahil membuahkan hasil yang baik. Bahkan perencanaan (planning) yang baik dapat dikatakan 50% usaha atau pekerjaan telah terlewati. Namun demikian bukan berarti perencanaan (planning) adalah segala-galanya. Sebab dalam manajeman perencanaan hanyalah satu di antara lima fungsi manajemen.
Secara lengkap fungsi-fungsi manajemen adalah sebagai berikut.
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran, dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan (Handoko, 1995:23). Perencanaan merupakan suatu pendekatan yang terorganisasi untuk menghadapi problema-problema di masa yang akan datang dan menjembati jurang pemisah antara posisi sekarang dan tujuan yang ingin dicapai. Perencanaan harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan

tentang siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana tindakan-tindakan di masa depan dapat dilaksanakan (Terry, 2000:47).
Menurut Handoko (1995:79), semua kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap, yaitu: (a) menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan; (b) merumuskan keadaan saat ini; (c)mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan; (d) mengembangkan rencana atau kegiatan untuk mencapai tujuan.
Implementasi dari planning di atas, langkah-langkah yang dilakukan adalah:
a. Sekolah menginventarisasi kebiasaan membaca yang dilakukan oleh guru, karyawan, dan utamanya para peserta didik.
b. Kepala sekolah bersama dewan guru merumuskan kebijakan pembudayaan membaca.
c. Sekolah menginventarisi bahan-bahan pustaka yang diperlukan berdasarkan inventarisasi kebiasaan membaca di atas, dengan tetap memperhatikan bahan-bahan bacaan yang bermutu dan mendidik.
d. Menyusun konsep dan strategi pelaksanaan pembudayaan membaca.
e. Sekolah bersama komite sekolah berkoordinasi dalam hal pelaksanaan penerapan budaya membaca.
2. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian adalah (a) Penentuan sumber-sumber daya dan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi; (b) Perancangan dan pengembangan suatu organisasi atau kelompok kerja yang akan dapat membawa hal-hal tersebut ke arah tujuan; (c) Penugasan tanggung jawab tertentu; (d) Pendelegasian wewenang yang diperlukan kepada individu-individu untuk melaksanakan tugasnya (Handoko,1995:24).

Implementasi dari tahap ini adalah:
a. Sekolah menyusun tim yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap program.
b. Sekolah menyediakan sumber dana, sarana dan prasarana yang diperlukan.
c. Tim mengembangkan job discription pelaksanaan program.

3. Penggerakan (Actuating)
Sesudah rencana dibuat dan pengorganisasian ditentukan, langkah berikutnya adalah menugaskan personal organisasi untuk bergerak menuju tujuan yang telah ditentukan. Penggerakan (actuating) disebut juga dengan gerakan aksi mencakup kegiatan yang dilakukan tim untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang ditetapkan oleh unsur perencanaan dan pengorganisasian agar tujuan-tujuan dapat tercapai.
Penggerakan mencakup penetapan dan pemuasan kebutuhan manusiawi dari personal-personalnya (pegawai), memberi penghargaan, memimpin, mengembangkan dan memberi kompensasi kepada mereka (Terry, 2000:17).
4. Pengawasan (Controlling)
Fungsi perencanaan, pengorganisasian, dan penggerakan tidak akan efektif bila tanpa fungsi pengawasan. Pengawasan (controlling) adalah penemuan dan penerapan cara dan peralatan untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan yang ditetapkan (Handoko, 1995:25).
Fungsi pengawasan pada dasarnya mencakup empat unsur, yaitu:
a. Penetapan standar pelaksanaan

b. Penentuan ukuran-ukuran pelaksanaan
c. Pengukuran pelaksanaan nyata dan membandingkan dengan standar yang telah ditetapkan
d. Pengambilan tindakan koreksi yang diperlukan bila pelaksanaan menyimpang dari standar.
Rangkaian fungsi manajemen di atas merupakan satu-kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Kelima fungsi manajemen tersebut saling terkait satu dengan lainnya.

C. Ketersediaan Perpustakaan
Perpustakaan sekolah merupakan salah satu prasarana pendidikan yang wajib ada. Mengapa demikian? Sebab masyarakat sekolah adalah masyarakat belajar (learning community) yang tentu saja membutuhkan banyak bahan bacaan dan banyak informasi. Bahan bacaan yang dimaksud bukan hanya sekadar buku-buku pelajaran, kurikulum, melainkan lebih dari itu, yaitu bahan bacaan yang merangsang minat baca, bahan bacaan sebagai pusat penelitian sederhana, bahan bacaan ilmu pengetahuan, dan bahan bacaan yang bersifat rekreatif. Bahkan lebih dari itu, bahan bacaan juga dapat berupa film, kaset, piringan hitam, maupun kaset video (CD).
Kepala sekolah sebagai manajer di sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam mendorong, menumbuhkan inspirasi, dan me-manage komponen di sekolah dalam perencanaan penambahan koleksi bahan bacaan perpustakaan sekolah.
Dalam hal pengadaan koleksi perpustakaan, kepala sekolah harus memahami
kebutuhan masyarakat pembacanya (siswa, guru, dan karyawan) dengan evaluasi yang objektif, didukung data-data yang akurat, sehingga koleksi bahan pustaka dapat dipertanggungjawabkan (Bina Pustaka Jakarta, 2005/2006:1-2).

D. Strategi Menumbuhkan Minat Baca
Kemampuan membaca secara baik merupakan keterampilan berharga yang bermanfaat sepanjang hidup. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kegiatan membaca seolah-olah menjadi beban. Namun manakala membaca sudah merupakan kebiasaan, peserta didik tidak akan menganggap sebagai beban. Bahkan kegiatan membaca akan menjadi sebuah hobi yang menyenangkan (Bobby de Potter dalam Ary Nilandari, 2005: 182-183)
Membentuk kebiasaan membaca membutuhkan waktu yang relatif lama. Oleh karena itu usaha-usaha pembentukan hendaklah dimulai sedini mungkin dalam kehidupan, yaitu sejak masa kanak-kanak (Tampubolon, 1987: 229).
Untuk menjadikan membaca sebagai sebuah budaya (kebiasaan), sekolah perlu merancang strategi atau cara-cara tertentu, yaitu:
1. Berikan teladan membaca pada para peserta didik.
2. Sampaikan manfaat yang dapat diperoleh dari kebiasaan membaca.
3. Sekolah perlu menyediakan bahan-bahan bacaan sesuai dengan perkembangan jiwa peserta didik. Untuk sekolah dasar, bacaan bisa dimulai dari bacaan-bacaan bergambar yang kalimat-kalimatnya sederhana, buku-buku cerita atau dongeng sederhana, buku-buku ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Untuk hal ini dalam

memilih buku memang harus benar-benar cermat. Sebab jika bahan bacaan terlalu berat tentu hal ini justru akan menjadi hal yang menakutkan bagi peserta didik. Akhirnya mereka akan menganggap bahwa membaca merupakan sebuah beban.
4. Dalam memilih dan menentukan bahan bacaan, guru jangan memaksakan untuk membaca bahan-bahan bacaan tertentu yang kurang diminati oleh siswa. Sebab tujuan mendorong mereka untuk membaca bukanlah harus memahami pengetahuan tertentu, melainkan supaya tumbuh kesadaran mereka untuk biasa membaca.
5. Dalam menentukan pilihan bacaan, guru harus menunjukkan bacaan-bacaan yang sesuai dengan perkembangan jiwanya.

E. Pengukuran Minat Baca Peserta Didik
Sekalipun menumbuhkan minat baca bukan untuk mengukur kemampuan pengusaan terhadap bahan bacaan, namun jika membaca sudah merupakan kebiasaan bagi peserta didik, sebagai kontrol terhadap kegiatan membacanya, guru perlu memberikan buku yang berisi bukti peserta didik telah menyelesaikan pembacaan dengan buku kolom-kolom seperti berikut.
1. Judul buku yang dibaca
2. Pengarang
3. Penerbit dan tahun terbit
4. Ketebalan buku
5. Isi pokok buku

6. Catatan guru
Berdasarkan buku kontrol tersebut, guru akan mengetahui tentang jenis-jenis buku yang dibaca/disukai peserta didik, jumlah bacaan yang telah dibaca, dan kemampuan mereka memahmi isi bacaan.
Agar peserta didik merasa terikat oleh kebijakan wajib baca bahan bacaan maka sekolah dapat menentukan jumlah bacaan yang harus dibaca oleh peserta didik pada kurun waktu tertentu. Misalnya selama 6 (enam) bulan siswa harus menyelesaikan 3 buah bahan bacaan. Hasil siswa membaca ini juga dapat digunakan sebagai portofolio peserta didik. Oleh karena itu, maka dalam kolom catatan, guru harus memberikan catatan yang berisi motivasi, komentar, dan penilaian.
F. Pengembangan Minat Baca
Tindak lanjut dari menumbuhkan kebiasaan membaca bagi peserta didik, tentu tidak berhenti hanya sekadar membaca dan menyelesaikan bahan tugas semata. Sebab muara membaca adalah pemahaman. Untuk itu manakala membaca sudah menjadi kebiasaan bagi peserta didik, sekolah perlu selalu menambah koleksi perpustakaan.
Pada even-even tertentu sekolah dapat mengagendakan/menyelenggarakan hal-hal sebagai berikut.
1. Mengadakan lomba bercerita tentang buku cerita yang pernah dibaca.
2. Mengadakan lomba menulis kembali buku/bahan bacaan yang pernah bibaca (sinopsis), baik bacaan fiksi maupun nonfiksi.
3. Mengadakan lomba mengkritik buku/bahan bacaan yang pernah dibaca.

Guna mendorong siswa untuk selalu gemar membaca, maka pada pelaksanaan lomba sebagaimana tersebut di atas, sekolah perlu memberikan reward kepada mereka yang juara. Tetapi perlu diingat bahwa pemberian reward/penghargaan bukanlah muara dari tujuan membaca yang dimaksud dalam makalah ini.

G. Penutup
Berdasarkan uraian di atas dapat penulis sampaikan bahwa minat baca harus ditumbuhkan sedini mungkin, baik ketika anak belum sekolah dan utamanya setelah anak memasuki bangku sekolah. Upaya menumbuhkan minat baca peserta didik sehingga membaca tidak merupakan beban, perlu dirancang strategi tertentu agar membaca menjadi bagian dari kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Upaya sekolah menjadikan membaca sebagai budaya merupakan bagian dari upaya peningkatan sekolah yang bermutu.
Sekolah hendaknya memanfaatkan perpustakaan benar-benar sebagai tempat siswa mendapatkan sumber-sumber bacaan. Koleksi perpustakaan harus selalu ditambah agar tidak menimbulkan kebosanan dalam mendapatkan bahan bacaan yang up to date. Koleksi perpustakaan harus dipilih sesuai dengan perkembangan jiwa peserta didik.
Guru hendaknya menjadi teladan bagi siswa dalam hal kebiasaan membaca. Sampaikan kepada siswa tentang manfaat yang diperoleh dari kebiasaan membaca. Berikan apresiasi terhadap siswa yang rajin membaca.

DAFTAR PUSTAKA

Bobbi de Potter dkk. 2005. Quantum Teaching, Memprakrikkan Quantum Leraning di Ruang-Ruang Kelas. PT MizanPustaka: Jakarata.

Depdiknas. 2005/2006. Bahan Penataran Pustakawan Jarak Jauh. Bina Pustaka: Jakarta.

Handoko, Hani T. 1995. Manajemen. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Tampubolon, DP. 1987. Kemampuan Membaca, Teknik membaca Efektif dan Efisien. Angkasa: Bandung.

Terry, George R. 2000. Prinsip-prinsip Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.

Satu Tanggapan

  1. bagus artikelnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: