Awal Bangun Komunikasi


Awal Bangun Komunikasi

  • Oleh Muslich Shabir
BILA direnungkan mendalam, perjalanan Isra Mikraj memiliki suatu misi dari Allah SWT, yaitu pemberitahuan hal gaib dan penyampaian perintah shalat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal gaib merupakan salah satu fenomena yang harus dipercayai kaum muslimin.

Penyampaian perintah shalat dapat dipersepsikan bahwa inilah tujuan utama Allah mengisramikrajkan Nabi Muhammad selain secara implisit, yaitu menghilangkan kesedihan Beliau dan menyadarkan bahwa Beliau adalah harapan bagi terciptanya kehidupan baru yang konstruktif secara fundamental.

Isra dapat dianalogkan perjalanan horizontal saat Nabi masih di alam yang sama, sedangkan mikraj sebagai perjalanan vertikal saat Beliau naik dari alam dunia menuju alam lain untuk bertemu dengan Allah. Di sini, terkandung pelajaran bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia harus memperhatikan dua hubungan komunikasi secara seimbang, antara hubungan vertikal  (hablumminallah) dan hubungan horizontal (hablumminannas).

Dalam

fenomena keseharian, banyak dijumpai orang yang lebih menekankan mikraj (hubungan vertikal dengan Allah) dengan melakukan banyak ibadah, sementara tuntutan isra (hubungan horizontal dengan sesama manusia) belum terpenuhi. Prinsipnya, Allah menuntut keseimbangan antara kesalehan individu dan kesalehan sosial guna merealisasikan sukses dunia dan akhirat

Fenomena Isra Mikraj memiliki aspek tersirat yang dapat dicermati sebagai perspektif pribadi seorang hamba yang merindukan hakikat aplikasi konstruktif dari pemaknaan Isra Mikraj. Konteks peristiwa itu dapat direfleksikan dengan konteks keadaan yang terjadi saat ini, yang bisa dikatakan konteks kemodernan zaman mulai mengikis nilai kemanusiaan, terlebih aspek religi.

Seorang muslim yang ingin ditinggikan derajatnya oleh Allah harus melewati proses panjang berliku untuk menundukkan hawa nafsu dan mengabdi pada perintah-Nya, seperti menegakkan shalat serta amar ma’ruf  (mengajak pada kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kemunkaran). Salat hanyalah salah satu entry point menuju tatanan hidup yang tenteram dan berujung pada rida Allah.

Pancarkan Semangat

Dengan shalat, manusia diharapkan mampu meredam nafsu hayawaniyah dan iblisiyah serta lebih mengedepankan naluriah dan penalaran saat berinteraksi dengan sesama manusia agar tidak ada lagi kemungkaran dan penyelewengan. Orang yang sudah memiliki modal kebaikan lewat shalat harus berkomitmen untuk senantiasa menjaga diri dari segala kemaksiatan serta melakukan amar ma’ruf nahi munkar secara dinamis dan berkesinambungan.

Semangat takwa itu jika dilakukan dengan tulus akan memancarkan semangat perikemanusiaan, kemudian pada gilirannya semangat perikemanusiaan itu sendiri memancar dalam berbagai bentuk hubungan pergaulan sesama manusia yang penuh dengan budi luhur. Tuduhan yang menuding bahwa Islam merupakan biang terorisme adalah tuduhan yang berlebihan dan omong kosong belaka, bahkan bisa dikategorikan fitnah.

Menegakkan hukum adalah amanah Allah yang harus ditegakkan kepada siapa pun tanpa pandang bulu. Rasulullah pernah menyampaikan, hancurnya bangsa-bangsa di masa lalu yakni bila ada orang penting yang melakukan kejahatan maka dia dibiarkan, tetapi jika ada orang biasa (baca: orang kecil) yang melakukan pelanggaran maka ia dijatuhi hukuman. Kemudian ditegaskan, bila sekiranya Fatimah, putri kesayangannya mencuri maka Beliau sendiri akan memotong tangannya.

Dengan demikian, iktikad baik pribadi saja tidak cukup untuk mewujudkan masyarakat yang berperadaban. Iktikad baik yang merupakan buah keimanan itu harus diterjemahkan menjadi tindakan kebaikan yang nyata dalam masyarakat, berupa amal saleh, yang secara aktif merupakan tindakan kebaikan bukanlah untuk kepentingan Allah karena Allah tidak memerlukan apa pun dari makhluk-Nya.

Perkembangan kepemimpinan di dunia saat ini, terlebih di Indonesia cenderung mengabaikan model kepemimpinan yang telah disuguhkan Nabi Muhammad, bahkan cenderung kepemimpinan Beliau hanya dijadikan literatur dan sebagai gambaran imaji yang tak perlu diteladani. Kehidupan berbangsa pada masa modern lebih memilih model teori kepemimpinan yang ditawarkan oleh ilmuwan ketatanegaraan Barat meskipun teori tersebut banyak memiliki kelemahan dalam praktiknya. Model kepemimpinan Muhammad lantas dianggap bukan produk ilmiah yang tak termasuk teori hasil pemikiran tokoh/ilmuan ternama. (10)

— Prof Dr H Muslich Shabir MA, guru besar sejarah peradaban Islam IAIN Walisongo Semarang

sumber suara merdeka 9 juli 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: