Kearifan Pendidikan Samin


Kearifan Pendidikan Samin

Alam telah mengajari keseimbangan dan harmonisasi bagi masyarakat Samin yang polos ini.
BELAKANGAN ini boleh jadi banyak orang riuh membincangkan seng-karut ujian nasional. Namun, tidak dengan masyarakat Samin yang berdiam di pedalaman Blora, Jawa Tengah, dan tersebar di beberapa wilayah perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur.

Jauh hari mereka telah menerapkan pendidikan dengan cara mereka sendiri. Untuk meretas masa depan, sedulur sikep ini tidak mengidamkan selembar ijazah, tapi nilai-nilai kearifan.

Bagi kaum Samin, menjadi manusia seutuhnya tidak harus selalu ditempuh dengan melewati pendidikan formal di sekolah-sekolah. Mereka lebih mapan mendidik anak-anak samin dengan caranya sendiri. Pendidikan Samin tidak terlepas dari lingkaran kearifan komunitasnya.

Sejauh ini, masyarakat Samin antipendidikan formal bukan semata Juapan kemalasan. Mereka mengantongi alasan lain yang sudah mendarah daging. Dalam pandangan Samin, sekolah hanya akan merusak mental anak-anak mereka. Pendidikan formal akan mengubah selera mereka sebagai kawula (rakyat) menjadi bendara (penguasa). Ini yang tidak diinginkan sedulur sikep.

Sekolah formal di mata kaum samin dianggap tidak mampu menyemai pendidikan moral seperti mereka punya. Bersekolah di pendidikan formal, hemat Samin, semakin menggerus moralitas anak-anak mereka. Samin menganggap pendidikan formal berorientasi mencetak kaum elite yang serakah, dan bukan mengajari mereka menjadi kawula yang berkeadaban.

Pendidikan formal dianggapnya sebagai alternatif ambisi untuk berkuasa, atau setidaknya memeroleh kedudukan dan kemapanan ekonomi. Pendidikan seakan menjadi prasyarat mendapatkan legitimasi untuk meraup kuasa yang terepresentasi melalui ijazah.

Samin berkehendak bebas dari belenggu sekolah seperti itu. Masyarakat Samin ingin pendidikan mereka berjalan leluasa tanpa intimidasi. Mereka mendamba iklim pendidikan yang demokratis, merdeka.

Pendidikan impian samin ini, meminjam istilah Paule Fraiere (1986) dipandang sebagai konsep pendidikan untuk pembebasan. Melalui pendidikan, masyarakat leluasa menentukan selera hidupnya tanpa kendali kuasa.

Pendidikan adalah aktivitas demokratis tanpa otoriter birokrasi. Kaum Samin lebih mengidamkan generasi yang saleh (ngmunih tata). Manusia sempurna impian Samin adalah generasi yang punya etika, berbudi luhur.

Mereka tidak tergoda dengan iming-iming menjadi masyarakat cerdas, berwawasan tapi tidak nyamudra tata. Filosofi Jawa menolak menjadi wong pinter seng minteri wong, (orang pintar yang membodohi orang lain).

Untuk menyiasati polemik ini, Samin menyuguhkan strategi tersendiri untuk suksesi pendidikan anak mereka. Samin lebih menekankan pendidikan berbasis keluarga dan alam.

Kedua model pendidikan itu bagi Samin dirasa cukup mengantarkan anak-anak mereka menjadi manusia yang berbudi, luhuring budi. Dalam lingkup keluarga, pendidikan Samin disuguhkan dengan model home schooling. Aktivitas di lingkungan keluarga adalah pendidikan penting bagi anak-anak mereka.

Orang tua dalam wilayah ini memainkan peran penting. Dalam masyarakat Samin, berhasil atau tidaknya pendidikan anak bergan-tungpada peran orang tua.

Pendidikan berbasis keluarga ini menyuguhkan nilai kearifan hidup seperti diamini masyarakat samin selama ini. Semenjak kecil, anak-anak mereka dididik agar tidak drengki (memfitnah), stei (serakah), panesten (membenci sesama), dawen (menuduh tanpa bukti), kenieren (iri hati), dan aja kutil (jangan suka mengambil atau mencuri milik orang lain).

Sistim modeling
Modeling mendambakan keteladanan tokoh pengajar dalam proses pembelajaran. Ki Hadjar Dewantara menyemainya dalam semangat ing ngarsa sung tuladlia (di depan memberikan teladan).Konsepsi modeling ini, dalam masyarakat Samin juga memberdayakan potensi sosial. Ketokohan dalam masyarakat merupakan sesuatu yang penting.

Samin mendambakan tokoh sentral sebagai figur modeling yang mereka jadikan panutan. Inilah mengapa Samin selalu menuakan tokoh adat mereka. Samin Suro Sentiko ialah figur sentral yang ajarannya masih diamini, dijunjung tinggi, dan dipraktekkan dalam laku kehidupan Samin.

Model kedua adalah pendidikan berbasis alam. Masyarakat Samin menganggap alam sebagai sesuatu yang sakral, profan. Alam menyimpan energi natural yang menyemaikan kearifan jika dihargai.Lewat alam, masyarakat samin belajar tentang hakikat kehidupan, tentang nilai, etika dan kearifan hidup. Konsepsi itu melahirkan kearifan lingkungan yang maha-
dahsyat.

Samin mampu hidup selaras dengan alam. Lumbung kehidupan mereka adalah alam. Jika mereka merusak alam, sama halnya menghancurkan kehidupan, jika tidak generasi sekarang, anak turun mereka.
Lewat model pendidikan kearifan seperti itu, kaum Samin mencetak generasi mereka. Mereka tidak perlu bersusah payah menjadi orang dinas untuk menuai kesejahteraan hidup. Ketika banyak anak sekolahan depresi dengan ujian nasional, anak-anak Samin tetap bersahaja dengan kearifan yang mereka geluti.

Sedulur sikep mampu mencapai sejahtera berbekal kearifan pendidikan yang mereka semai-kan turun-temurun. Mereka tidak membutuhkan seragam atau ijazah untuk menjadi manusia.

Konsepsi pendidikan seperti ini telah mampu mengantarkan komunitas Samin pada kesejahteraan hidup. Meski mereka tidak pernah makan sekolahan. (M-4) miweekend@mediaindonesla.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: