Kenapa 17 Agustus?


DALAM buku Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (edisi revisi 2007), terkesan bahwa tanggal kemerdekaan 17 Agustus sudah dapat dipastikan sebelumnya. Bahkan pemilihan angka 17 tersebut bernuansa mistik. ”Di Saigon aku sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17.”

”Mengapa  tanggal 17, tidak lebih baik sekarang saja atau tanggal 16?” tanya Sukarni.

Bung Karno menjawab, ’’Aku percaya mistik…. Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang manis. Jumat suci. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam melakukan sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia.”

Buku Cindy Adams terbit dalam suasana genting tahun 1965 setelah serangkaian wawancara yang dilakukan sebelumnya. Soekarno belum sempat lagi mengecek secara rinci keseluruhan isi buku tersebut. Lagi pula wawancara itu dilakukan dua dasawarsa setelah peristiwa proklamasi.


Di samping ada hal yang terlupa, bisa pula muncul aspek post-factum, maksudnya setelah terjadi suatu peristiwa baru dicari atau dipikirkan alasannya. Kalau dilihat fakta historis, maka tanggal 17 Agustus 1945 yang jatuh pada bulan Ramadan bukanlah tanggal yang direncanakan jauh-jauh hari sebagai saat pembacaan proklamasi kemerdekaan. Ini hanya dimungkinkan oleh serangkaian peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Jepang menyerah kepada Sekutu setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Berita ini tidak diketahui oleh masyarakat Indonesia secara luas, kecuali segelintir orang. Tanggal 9 Agustus sampai dengan 14 Agustus, Soekarno, Hatta, Rajiman diundang Marsekal Terauchi ke Dalat, di utara Saigon, Vietnam. Mereka diberitahu bahwa ”proses kemerdekaan terserah Tuan”.

Pesawat mereka mendarat di Bandara Kemayoran, Jakarta, 14 Agustus pukul 11. Rakyat sudah menunggu, Soekarno berpidato  ”Kalau dahulu saya berkata, sebelum jagung berbuah Indonesia akan merdeka, sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga”. Memang waktunya semakin mendekat, tetapi tanggalnya belum pasti.

Tanggal 14 Agustus 1945 pukul 14.00, di rumah Hatta sudah ada Sjahrir yang mengabarkan bahwa Jepang meminta berdamai dengan Sekutu. Soekarno disarankan Sjahrir agar mengumumkan kemerdekaan. Mereka berdua lalu pergi ke rumah Bung Karno. Soekarno mengatakan bahwa yang berhak mengumumkan adalah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) secara keseluruhan, bukan dia sendirian selaku ketua.

Esok harinya, tanggal 15 Agustus, Soekarno, Hatta, dan Soebardjo pergi ke kantor pemerintahan militer Jepang (Gunseireibu) yang ternyata kosong. Di kantor Laksamana Maeda, penghubung Angkatan Laut Jepang di Batavia, mereka memperoleh informasi bahwa berita itu memang disiarkan oleh Sekutu, tetapi mereka belum mendapat instruksi dari Tokyo.

Mereka meninggalkan kantor Maeda, lalu Hatta mengusulkan kepada Soekarno agar rapat PPKI diadakan keesokan harinya tanggal 16 Agustus pukul 10.00 di Pejambon karena para anggota PPKI sudah berada di Jakarta (mereka menginap di Hotel Des Indes, kemudian menjadi kompleks toko Duta Merlin dan kini Carrefour) di bilangan Harmoni, Jakarta.

Tanggal 15  Agustus pukul 21.30, Hatta dan Soebardjo pergi ke rumah Bung Karno, yang sedang didesak pemuda agar segera mengumumkan kemerdekaan. Wikana (tokoh pemuda) mengancam ”Apabila Bung Karno tidak mengumumkan kemerdekaan malam ini juga, besok akan terjadi pertumpahan darah”. Soekarno berang dan seraya menunjuk lehernya berkata ”Ini leher saya dan seretlah saya ke pojok itu, sudahi nyawa saya malam ini juga, jangan menunggu sampai besok.”

Wikana yang kaget melihat kemarahan Bung Karno, berujar ”Maksud kami bukan mau membunuh Bung, melainkan kami mau memperingatkan, apabila kemerdekaan Indonesia tidak dinyatakan malam ini, besok rakyat akan bertindak dan membunuh orang-orang yang dicurigai, yang dianggap pro-Belanda.’’

Pertemuan itu tidak menghasilkan kesepakatan. Ketika sedang sahur,  Hatta dijemput Sukarni dan kawan-kawan. Kata pemuda, siang nanti rakyat akan menyerbu Jakarta. Soekarno dan Hatta dibawa ke tempat yang aman untuk memimpin pemerintahan dari sana. Soekarno pergi bersama sang istri, Fatmawati, dan bayinya, Guntur. Mereka dibawa ke Rengasdengklok, mula-mula di markas PETA, kemudian ke rumah seorang Tionghoa, Djiau Kie Song.

’’Maklumat’’ Diganti ’’Proklamasi’’

Tanggal 16 Agustus 1945 tidak terjadi apa-apa di Jakarta. Malam sebelumnya, komandan batalyon PETA Kasman Singodimejo menolak berontak bila tidak ada perintah Bung Karno. Sore hari Soekarno-Hatta  dijemput Soebardjo ke Jakarta.

Setiba di rumahnya, Hatta meminta Soebardjo mengontak Hotel Des Indes, tempat anggota PPKI menginap, untuk mengadakan rapat di sana. Karena sudah lewat pukul 22.00, hotel itu sudah tutup. Soebardjo menelepon Maeda yang ternyata bersedia rumahnya (kini Jalan Imam Bonjol No 1) dijadikan tempat rapat.

Walaupun di rumah itu ada beberapa orang Jepang, mereka tidak mencapuri perumusan proklamasi. Soekarno, Hatta, Soebardjo, Sukarni, dan Sayuti Melik kemudian keluar ruangan dan menyampaikan hasil rumusan mereka kepada sekitar 50 tokoh serta pemuda yang hadir. Iwa Kusuma Sumantri mengusulkan agar kata ”Maklumat” diganti ’’Proklamasi’’.

Para pemuda tidak setuju semua anggota PPKI menandatanganinya karena menganggap lembaga itu buatan Jepang. Sukarni mengusulkan penandatanganan dilakukan Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Naskah itu kemudian diketik  Sayuti Melik dan selanjutnya digandakan, menurut satu sumber, di Asrama Prapatan 10 Jakarta.

Tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.28 waktu Jawa atau sekarang 09.58 WIB diumumkanlah proklamasi kemerdekaan di depan rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56.

Jadi, proklamasi itu bukan skenario Hatta dengan PPKI dan bukan skenario Sjahrir/pemuda tanpa PPKI, melainkan perpaduan antara pemimpin senior seperti Soekarno-Hatta dan para pemuda (termasuk PETA) tanpa intervensi Jepang. Peristiwa Rengasdengklok membalikkan jalan sejarah. Tanpa ada peristiwa tersebut, bila kemerdekaan diumumkan oleh PPKI tanggal 16 Agustus, maka itu terkesan seperti proses rancangan Jepang karena PPKI dibentuk mereka.

Pengangkatan Sjahrir dan Amir Syarifuddin yang anti-Jepang sebagai Perdana Menteri 1945-1947 memperlihatkan kepada dunia bahwa republik ini bukan boneka Negeri Matahari Terbit. Jadi, terbukti bahwa tanggal 17 Agustus bukanlah tanggal mistik atau keramat, melainkan hasil perkembangan serangkaian peristiwa yang disertai dinamika hubungan antara pemimpin Indonesia dan pemuda serta rakyat. (59)

Suara merdeka 16/8/2010

— Dr Asvi Warman Adam adalah sejarawan LIPI

Satu Tanggapan

  1. Tgl 17 = jumlah seluruh rakaat dalam sholat
    Bulan 08 = 17=>1+7=8
    Tahun 1945 =
    Pukul 10 =
    Jumlah 17+08+19+45+10 = 99 nama suci allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: