Pembuat Sketsa saat Detik-detik Proklamasi (1)


Jepang Terkecoh, karena Bulan Ramadan

SM/Setyadi Dwi SAKSI HIDUP: Tubagus Dudum Sondjaja dan gambar sketsa Bung Karno bersama ibu Fatmawati yang  menggendong bayi Guntur Soekarnoputera di rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok. (46

Salah satu saksi sejarah detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI
tanggal 17 Agustus 1945 yakni Tubagus Dudum Sonjaya (75).
Dia adalah pembuat sketsa
saat-saat bersejarah bangsa Indonesia tersebut. Berikut
laporan Suara Merdeka.

RAMADAN yang bertepatan dengan bulan Agustus, memberikan kenangan tak terlupakan bagi Tubagus Dudum Sonjaya. Pria asal Banten yang besar di Cianjur dan Karawang tersebut, menjadi salah satu saksi hidup kali pertamanya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan Ir Soekarno di Kesatrian Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.
Keterlibatan Dudum sebagai saksi hidup peristiwa yang ‘’menyemangati’’ Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tersebut, terkait dengan kepandaian dirinya menggambar sketsa. Saat itu, dia baru berumur 10 tahun.

‘’Awalnya adalah dari ketiadaan, dalam hal ini orang yang mampu membuat dokumentasi foto. Sebab, Jepang melarang kamera beredar luas di masyarakat. Dengan alasan, takut dipakai kegiatan mata-mata. Kebetulan, oleh ayah dan Shodanco Singgih (komandan  PETA), saya dianggap mampu menggambar sketsa,’’ kata Dudum mengawali perbincangan dengan Suara Merdeka di kediamannya, Kampung Cisireum, Desa Mekarwangi, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, kemarin sore.
Dudum waktu itu langsung menurut apa yang diperintahkan ayahnya dan Singgih. Sebab, menurut dia, anak-anak saat itu tak akan berani membantah perintah ayahnya atau orang yang dituakannya. ’’Saya itu waktu kecil, pokoke manut saja apa kata orang tua. Jadi langsung nggih saja,’’ ujar pria yang juga bisa berbahasa Jawa itu.
Ayah Dudum, MS Syafe’i adalah ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Karawang. Dia selalu menjadi jujukan pemuda dan kaum pergerakan. Pada masa itu ketua partai adalah orang yang selain mampu memimpin, juga bisa menyediakan logistik, akomodasi, dan sebagainya.
Sebelum Bung Karno tiba di Rengasdengklok 16 Agustus 1945 dini hari atau pada saat sahur, hari-hari sebelumnya sudah banyak tokoh berkunjung ke rumah ayahnya. Baik itu orang Jepang maupun pemuda Indonesia.
’’Ada urutan yang menarik untuk saya sampaikan. Pertama pada saat itu kan bulan Puasa. Biasanya, orang pada pagi dan siang harinya banyak di rumah saja. Tapi, 15 Agustus di Rengasdengkok kok banyak sekali pemuda berani mengibarkan bendera Merah Putih dan teriak-teriak merdeka. Pasti ada tamu agung nih.’’
Apalagi sehari sebelumnya, yaitu tanggal 14 Agustus, orang Jepang bernama Mitsui yang dipercaya mengelola penggilingan beras terbesar di Karawang, datang sambil menangis. Pasalnya, dia mendengar langsung berita Nagasaki dibom atom Sekutu. Akibatnya, keluarga Mitsui di Jepang diperkirakan tewas dengan tragis karena lokasi rumahnya di tengah kota.
Mitsui lalu menyerahkan mobilnya kepada ayah Dudum seraya berkata ’’merdeka ayo merdeka saja’’.
Di kemudian hari, Dudum melalui ayahnya mengetahui bahwa Mitsui melakukan hal itu karena hidupnya merasa sudah tidak punya harapan lagi. Dia ingin segera pulang ke kampung halamannya.
Berpindah Menginap
’’Saya waktu itu nguping sendiri. Jadi sebelum ayah saya bilang sudah tahu Jepang kalah. Kita akan merdeka tidak lama lagi. Ini berkah puasa. Itu kesan saya saat itu,’’ paparnya.
Saat sampai di Rengasdengklok pada 16 Agustus, Bung Karno, Bung Hatta, Bu Fatmawati, dan Guntur Soekarnoputra yang masih bayi, disinggahkan di rumah ayah Dudum. Namun, karena begitu banyaknya orang yang ingin bertemu dan berteriak-teriak memanggil nama Soekarno dan Hatta, maka rombongan kecil tersebut dipindahkan ke rumah seorang pedagang peti mati keturunan Tionghoa, Djiauw Kie Siong. Jaraknya sekitar 300 meter dari rumah MS Syafe’i, melalui jalan setapak. Hal itu untuk pertimbangan keamanan dan kerahasiaan.
’’Saya ingat waktu itu memang diputuskan jalan setapak walaupun ada jalan besar. Ini karena pertimbangan keamanan dan kerahasiaan, maka dipilihlah jalan setapak.’’
Belakangan, dia mengaku tahu bahwa di belakang rumah Djiauw Kie Siong sudah disiapkan perahu motor karena melalui Sungai Citarum itu ke laut juga sudah dekat. Hal itu untuk mengungsikan Bung Karno dan keluarganya serta Bung Hatta bila ada kondisi yang tidak diinginkan. Rumah Djauw juga lebih dekat ke Kesatrian PETA.
Dudum mengaku pada saat itu kehidupan di Rengasdengklok antara orang Tionghoa dan pribumi yang komposisinya mayoritas suku Sunda dan sebagian Jawa, sangat harmonis. Pada saat ayahnya melobi tokoh-tokoh Tionghoa untuk membantu perjuangan, banyak di antara mereka langsung setuju.
Pagi harinya pukul 09.00, Shodanco Singgih mendatangi rumah Djiauw dan meminta Bung Karno dan Bung Hatta ke Kesatrian PETA. Setibanya di Kesatrian PETA, Singgih meminta Bung Karno dan Bung Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Di depan Bung Karno dan Bung Hatta terdapat meja kayu berkaki batangan bambu. Di situ ada secarik kertas. Suasana agak tegang ketika Bung Karno diam sejenak, seakan sedang berpikir menimbang-nimbang desakan Singgih.
’’Waktu itu, suasana tegang. Saya yang ada di belakang Pak Singgih lagi membuat sketsa bersama Budhanco Umar Basan yang juga membuat sketsa. Suasana makin tegang ketika Singgih mengeluarkan pistolnya dari sarung di ikat pinggangnya dan meletakkannya di meja. Ini yang perlu saya luruskan, Singgih tidak pernah menodong Bung Karno. Saya saksinya. Tapi Singgih mendesak agar segera melakukan proklamasi sehingga tidak dinilai mendapatkan hadiah dari Jepang,’’ tegasnya.
Belakang hari, Dudum mengetahui dari Singgih sendiri bahwa sebagai seorang priyayi Jawa, adalah tidak pantas, tidak sopan bila memperlakukan orang tua seperti Bung Karno dengan cara menodongkan pistol. Tak lama setelah Singgih meletakkan pistol di meja, Bung Karno kemudian menuliskan naskah Proklamasi.
Dudum saat itu melihat Soekarno sempat mengucap dua kalimat syahadat lalu berpandangan dengan Hatta yang ada di sebelahnya kemudian sama-sama mengecek apa yang ditulis Soekarno. ’’Yang sungguh-sungguh saya banggakan terhadap Bung Karno adalah cepat sekali membuat teksnya, seperti seketika saja. Ketika ada kesalahan sedikit, langsung dicoret. Setelah koreksi itu Bung Karno membacakannya,’’ katanya.
Setelah proses itu, diadakanlah upacara pengibaran bendera di halaman depan Kesatrian PETA. Dudum mengaku menangis karena melihat banyak yang menangis haru saat melihat berkibarnya bendera Merah Putih dengan penghormatan penuh.
’’Pada saat itu, saya menangis. Saya juga bangga dan haru ketika komandan upacara berteriak hormat kepada Presiden Indonesia Soekarno. Waktu itu belum ada kata republik. Itulah sebabnya saya menyatakan bahwa Proklamasi Indonesia sudah terjadi pada tanggal 16 Agustus pukul 09.30,’’ kenangnya.
Selain itu juga hadir tokoh-tokoh penting seperti tokoh Masyumi M Natsir, tokoh Islam SM Kartosoewirjo, termasuk juga dari sosialis dan komunis yang dia agak lupa namanya.
Ternyata peristiwa itu menyebar melalui mulut ke mulut warga dengan secara cepatnya. Maka, pada 16 malamnya masyarakat setempat menggelar pawai obor. Pawai obor adalah tradisi masyarakat pantura Jawa pada malam bulan Ramadan, terlebih lagi bila bertepatan dengan Nuzulul Quran. Tapi pawai obor kali ini juga dibarengi dengan teriakan merdeka, selain shalawatan.
’’Jepang tidak sadar karena mengira ini adalah perayaan Ramadan. Mereka kan pahamnya setiap puasa ya begini yang terjadi, ada pawai obor. Padahal pawai ini juga spesial karena rakyat senang dengan Indonesia yang merdeka. Tapi saya tidak tahu Jepang yang menjaga jalan-jalan tempat pawai itu tidak ngeh atau memang tidak semangat lagi mencegah orang Indonesia merdeka. Karena tahu sudah kalah perang, lebih baik berpikir segera pulang,’’ ujarnya mengenang. (Hartono Harimurti, Setiady Dwie-20)

Sumber Suara Merdeka, 15 Agustus 2010

Satu Tanggapan

  1. woww

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: