Pendidikan bukanlah mengisi gelas kosong…


Pendidikan yang membebaskan bukanlah memberikan banyak pelajaran kepada anak didik hingga ia menguasai banyak ilmu pengetahuan. Sama sekali bukan. Ibarat mengisi gelas kosong maka pendidikan bertugas mengisi air ilmu pengetahuan sehingga gelas itu penuh. Bila sudah penuh maka berhasillah pendidikan itu. Sungguh, pendidikan yang demikian bukanlah model pendidikan yang membebaskan.

Bila demikian yang terjadi, murid akan selalu menjadi objek sedangkan guru yang menjadi subjek. Murid tidak pernah ditanya apa yang dibutuhkan dan disenanginya, namun pendidikan terus memberikan apa saja yang dinilainya penting dibutuhkan oleh anak didik. Murid mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, harus menerima dan menjalani proses pendidikan yang diberikan oleh sang pendidik atau lembaga pendidikan yang diikutinya.

Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang diberikan kepada anak didik sesuai dengan perkembangan dan potensi yang dimiliki oleh anak didik agar tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang merdeka. Sungguh, hanya manusia merdeka yang bisa merasakan kebahagiaan dalam hidup. Inilah hal yang mendasar dalam pendidikan yang membebaskan. Bahasa ekstremnya, hasil dari pendidikan yang membebaskan lebih baik menjadi pekerja sederhana yang bahagia daripada sarjana yang selalu saja gelisah dalam hidupnya.

Dengan demikian, memerhatikan potensi yang dimiliki oleh anak didik adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam pendidikan yang membebaskan. Di sinilah sesungguhnya dibutuhkan seorang pendidik yang jeli dan bisa membaca kebutuhan sekaligus potensi yang dimiliki oleh setiap anak didiknya. Dengan demikian, seorang pendidik bisa memberikan apa yang dibutuhkan oleh anak didik sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Sungguh, anak didik bukanlah robot-robot yang siap dijadikan apa saja setelah melalui proses pendidikan.

Pemahaman seperti tersebut di atas, sesungguhnya tidak hanya penting bagi para pendidik dan orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Akan tetapi, penting juga bagi setiap orangtua. Ada seorang anak yang sangat mencintai ilmu biologi ketika duduk di bangku SMA. Sang anak ingin melanjutkan kuliah pada jurusan dan fakultas yang sesuai dengan ilmu biologi. Namun, ayahnya yang seorang sarjana teknik bersikeras agar anaknya melanjutkan kuliah di fakultas teknik. Maka, sang anak yang tidak ingin dituduh sebagai anak yang durhaka kepada orangtua akhirnya hanya bisa menuruti keinginan sang ayah.

Pada saat kuliah, sang anak yang sesungguhnya tidak menyukai fakultas teknik, tidak bisa belajar dengan baik. Hal ini terjadi karena sang anak tidak mempunyai kecintaan dan semangat untuk belajar ilmu teknik. Bila sudah begini, siapakah sesungguhnya yang menjadi korban? Sekian tahun sang anak memaksakan diri mempelajari ilmu pengetahuan yang sesungguhnya ia sama sekali tidak menyukainya.

Setelah berjuang sekuat tenaga menyelesaikan kuliahnya di fakultas teknik, sang anak pun akhirnya lulus dengan nilai yang tidak begitu memuaskan. Sudah selesaikah penderitaan sang anak? Ternyata belum. Setelah lulus dari fakultas teknik, sang anak dipaksa oleh orangtuanya untuk bekerja di sebuah instansi di mana ayahnya bekerja di sana sebagai sarjana teknik. Lagi-lagi, sang anak yang sebelumnya sudah menyatakan ketidaksetujuannya dengan sang ayah hanya bisa menangis dan akhirnya menuruti kehendak sang ayah yang keras kepala. Jadilah sang anak bekerja di sebuah instansi yang sesungguhnya tidak sesuai dengan pilihan dan cita-citanya.

Pembaca yang budiman, kisah dari sang anak yang dipaksa ayahnya untuk kuliah dan bahkan untuk bekerja sesuai dengan kehendak orangtuanya di atas sama sekali bukan sekadar ilustrasi dari tulisan ini yang diangkat dari kisah rekaan. Sungguh, penulis mendapatkan cerita langsung dari sang anak tersebut yang kini telah bekerja di sebuah instansi, yang sekali lagi, di luar keinginannnya. Inilah yang penulis maksudkan jangan sampai terjadi dalam dunia pendidikan kita.

Orangtua memang mendapatkan amanat dari Tuhan untuk mendidik anaknya agar menjadi orang yang baik dan bertakwa kepada-Nya. Namun, bukan berarti bisa bertindak semena-mena sesuai dengan kehendaknya sendiri tanpa mendengar apa yang menjadi keinginan sang anak. Demikian pula dengan dunia pendidikan, yang dalam hal ini adalah pendidikan secara formal di sekolah. Lembaga pendidikan yang dipercaya oleh masyarakat ini hendaknya juga bisa menemukan apa yang menjadi keinginan dan cita-cita dari peserta didiknya sehingga dapat mengembangkan pendidikan yang diselenggarakannya dengan penuh semangat dan kegembiraan bersama anak didik.

Jika pendidikan masih memberlakukan anak didik sebagai gelas kosong, yang akan diisi apa saja sesuai dengan kehendak orang-orang yang bertindak dan mempunyai kebijakan di dunia pendidikan, maka akan hanya menghasilkan manusia-manusia yang jauh dari merdeka. Mereka hanyalah manusia yang dicetak untuk menjadi pelaku industri di dunia kapitalisme atau beragam kepentingan kekuasaan yang ada.

Dalam pendidikan yang tidak membebaskan, murid tidak pernah dipandang sebagai pribadi yang mempunyai pilihan dan berkemampuan untuk berkreasi. Murid dipandang seakan sebuah benda yang siap menerima dengan pasif sederet dalil pengetahuan dari seorang guru. Bila sudah begini, maka pengertian, pemahaman, dan kesadaran akan ilmu pengetahuan yang diberikan seorang guru kepada muridnya sudah bukan hal yang penting lagi. Ciri dari pendidikan yang semacam ini biasanya lebih mengajarkan menghafal kepada murid-muridnya daripada memahami, pilihan tertutup daripada esai, atau menyalin dan mencatat daripada membahasakannya kembali dengan cara atau apalagi pemahaman baru.

Sudah tentu kita tidak menginginkan model pendidikan sebagaimana tersebut. Kita menginginkan pendidikan yang membebaskan sehingga anak didik dapat menjadi manusia yang lebih tercerahkan. Dalam pendidikan yang membebaskan sangat menghargai proses daripada hasil pendidikan. Proses yang terjadi dalam pendidikan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dalam rangka untuk memperoleh pemahaman akan ilmu pengetahuan itu jauh lebih penting daripada hafalan-hafalan akan teori ilmu pengetahuan.

Bila merujuk pada pemikiran Freire, pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis yang mendorong kemampuan anak didik untuk memiliki kedalaman menafsirkan persoalan nyata dalam kehidupannya. Bila sudah demikian, menurut Freire, pendidikan yang membebaskan juga membangun kepercayaan diri anak didik untuk menyikapi keadaan yang terjadi. Oleh karena itu, proses dalam pendidikan dinilai lebih penting daripada hasil itu sendiri.

Dengan demikian, pendidikan tak sama dengan mengisi gelas kosong anak didik dengan ilmu pengetahuan bermakna pendidikan yang menghargai betapa pentingnya anak didik berproses. Proses dalam belajar dimaknai sebagai dinamika pergerakan dari sebuah tingkat kesadaran tertentu menuju tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Hal ini penting bagi anak didik yang menjalani proses belajar agar lebih mudah memahami apa yang sedang dipelajarinya, mempraktikkannya, dan mempunyai sikap ketika menghadapi permasalahan.

Salam Pendidikan Indonesia,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: